A special message for you

Nalanda Catumorli: A little girl, with a big dream :)

Thursday, September 03, 2009

Senda Gurau Belaka

Wei... udah lama ngga update blog! Apakah ada berita baru? Ada. Kemaren Jakarta diguncang gempa. Sumbernya dari Tasikmalaya, berkekuatan 7,3 SR, kejadiannya kira-kira jam tiga sore.

Sesaat sebelum gempa terjadi, ada beberapa hal yang aku lakukan yang pada akhirnya mempengaruhi kejadian saat dan setelah gempa terjadi. Ini hal yang aku lakukan berdasarkan kronologis:

1. Aku yang baru selesai meeting sekitar jam 3 kurang, berpikir ingin pulang, tapi akhirnya memutuskan untuk shalat dulu di kantor supaya ngga mepet nanti shalatnya. Sambil nunggu ashar, rencananya mau pompa asi.

2. Telpon Ibu W, yang sama-sama ibu menyusui, janjian mo mompa bareng. Si Ibu W mau nyusul aja katanya.

3. Telpon Bapak T, nanyain sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan.

4. Balik ke ruang meeting, rencananya mau bales email dulu sebelum mompa.

5. Pas baru buka laptop, dateng salah satu teman satu tim-ku, Pak C, dia datang sambil bertanya sesuatu. Saat itulah goyangan terasa dan aku bercanda, “Eh, Pak C dateng kok goyang-goyang ya? Kayak gempa aja. Hahaha…!” terus temanku yang masih di ruang meeting berkata, “Eh emang gempa ini….”

6. Lalu dia ngajak aku keluar, tanpa membawa apa-apa, tapi sesaat aku ragu, diam di ruang meeting, kemudian menutup laptop dan menuju keluar ruang meeting.

7. Aku bukan menuju pintu keluar, tapi menuju meja tempat tasku berada. Orang-orang masih ada yang buru-buru keluar, ada juga yang masih ragu. Ada yang bertanya, “Eh, udah berhenti ya?”, ada yang nyaut, “Beluuum….”

8. Aku sudah di meja, langsung angkat tas dan menjinjingnya. Lagi-lagi aku tidak menuju ke pintu, tapi ke pantry, karena ingat masih ada asi yang aku pompa di kulkas. Gempa masih terasa, euphoria kepanikan juga terasa. Tangan dan kakiku gemetar saat mengambil blue ice dan asi kemudian memasukannya dalam cooler bag.

9. Tangga darurat penuh, orang-orang bilang, “macet”, dan mencari tangga yang lain. Aku mengikuti arus ke tangga yang lain. Karena aku di lantai 4, ngga makan waktu lama untuk sampai ke lobby.

10. Di luar gedung, banyak sekali orang berkumpul. Aku sempat ngobrol-ngobrol dulu dengan bos-ku yang berkata, “Sempet-sempetnya ngambil tas?” dan bercanda-bercanda sebentar. Juga ngomongin kerjaan dengan temanku yang lain.

11. Akhirnya aku pulang. Di bis pun orang-orang membicarakan gempa.

12. Alhamdulillah aku sampai rumah dengan selamat.


Di dalam bis, ada beberapa hal yang terpikirkan olehku (menghayal mode ON):

1. Seandainya aku berpikir untuk shalat di rumah aja, mungkin pas gempa terjadi, aku terjebak dalam lift. (Hikmah: Jangan menunda shalat)

2. Seandainya aku ngga nelpon Ibu W, Bapak T, ngga kembali ke ruang meeting untuk bales email, mungkin pas gempa terjadi, aku di dalam mother’s room alias executive room yang sempit dan ngga ada sinyal. When u’re alone in a small room and earthquake is happening, what would happen if you’re panic? Anything! (Hikmah: Selesain kerjaan dulu sebelum pulang dan kalo pompa asi jangan sendirian, hehehe)

3. Ternyata saat gempa terjadi pun aku masih bercanda aja kerjaannya. Aku berpikir, beginikah caraku menghabiskan hidup? Seandainya gempa kemarin adalah akhir hidupku *lebay*, apakah saat-saat terakhirku pun bercanda, bukan menyebut nama-Nya? *mengerikan*

4. Ternyata saat gempa terjadi, entah sadar atau ngga, yang terpikir adalah our beloved ones, dan aku yakin, itulah yang mendorongku mengambil tas dan ngga langsung turun. Aku langsung pengen pulang, bertemu mereka. Karena lagi-lagi, seandainya gempa kemarin adalah akhir hidupku *lebay lagi*, aku mau menghabiskannya dengan yang tercinta. Karena kalau aku menghabiskannya di kantor, bukan dekat orang-orang tercinta, rasanya hidup ini sia-sia.

5. Seandainya aku selamat dari gempa dan ternyata maut tetap menjemputku di bis, aku yakin ngga akan kecewa. I’m done. I’ve tried my best. Di sisa hidupku aku berusaha bertemu my beloved ones, bukan berkutat dengan pekerjaan. Secinta-cintanya aku sama pekerjaanku, ngga bakal melebihi cintaku ke keluargaku deh!

6. Terakhir, karena masih diijinkan hidup oleh-Nya, aku berharap, berdoa, semoga waktu yang masih diberikan-Nya ini bisa kupergunakan sebaik-baiknya untuk kepentingan dunia-akhiratku. Amin.

Monday, April 06, 2009

Suami siaga plus plus

Apaan tuh suami siaga plus plus? Apakah sama dengan pij*t plus plus? (Ga ngaruh banget sih cuma disensor satu huruf, hahaha!) No no no! Nei nei nei! Maksudku di sini adalah suami siaga yang plus plus (Hmm, does this answer the question?). Plus plus di sini maksudnya siaganya ngga cuma pas istrinya hamil doank, tapi setelah ngelahirin juga.

Berapa sih waktu yang tepat buat sang suami untuk cuti setelah istrinya melahirkan? Ngga tau. Jawabannya bisa macem-macem, tergantung orangnya. Ada yang cutinya cuma tiga hari, ada yang sampe tiga minggu (Buat yang karyawan, tergantung kantornya juga sih ngasih berapa hari cutinya). Yang jelas, mau cutinya lama atau cepet, peran suami tetap penting dalam men-support “tugas baru” istrinya itu.

Bayangin aja, seperti yang udah aku bahas sebelumnya, waktu buat diri sendiri berkurang drastis, karena ada mahluk kecil mungil yang menggantungkan seluruh hidupnya ke “ibu baru” ini. Otomatis ini memicu stress pada si ibu baru, karena masih adaptasi.

Disinilah menurutku peran penting seorang suami. Lebih ke support mental sih sebenernya. Ini dari pengalamanku sih, mo coba sharing aja :) Hmm.. mulai dari mana ya? Let’s see

1. Sang istri butuh teman ngobrol

Si bayi memang lucu, lama-lama diliatin juga ngga akan bosen ^__^ tapi dia baru bisa nangis, belum bisa diajak ngobrol dua arah. Tau sendiri kan yang namanya perempuan, dalam satu hari bisa mengeluarkan berapa ribu kata? (Lupa deh berapa, tapi ada tuh penelitiannya). Nah, sebisa mungkin ajaklah istri mengobrol, yang ringan-ringan aja, yang berat juga ngga apa-apa sih (ngga konsisten deh, hahaha!). Pokoknya habiskan waktu yang berkualitas (Kaya iklan teh sariwangi :D)

2. Mentang-mentang 40 hari “puasa“, bukan berarti ngga bisa bermesra-mesraan kan?

A hug, a kiss, will be very appreciable! (Ngga mo nulis dalam bahasa Indonesia, entah kenapa terdengar vulgar, hahaha!). Kadang mesra-mesraan juga ngga mesti pake hug and kiss kan.. Waktu pacaran aja gandengan tangan udah cukup bisa bikin seneng. Makan siang bareng aja juga udah seneng. Iya ga? ^__^ Jadi mentang-mentang “puasa“, bukan berarti jadi jauh-jauhan. Love is not only about s** right?! (Kali ini disensor dua huruf, karena kata tsb cukup jelas :P) Jadi masa-masa ini anggap aja kayak masa pacaran dulu :) (Mmm, ngga berlaku buat yang menganut free s** yahh....)

3. Support mental sang istri, terutama tengah malam.

Waktunya tidur, eh malah harus bangun karena si baby ngga merem juga. Ngga apa-apa sih, cuma kalo ngeliat sang suami tidur pules kok kayanya kesel aja gitu. Rasanya kayak kita punya rekan kerja satu tim, terus si bos ngasih kerjaan berat. Bukannya bagi tugas, kerjaan itu cuma kita yang ngerjain, sementara rekan kerja cuma santai-santai, main game, chatting, dsb. Ini maksudnya bukan berarti suami juga perlu nyusuin (Ngga mungkin juga kan? ^__^), atau gantiin popok (Syukur-syukur kalo suaminya bisa dan mau), tapi lebih ke support mental sang istri supaya ngga stress :) Misalnya, ngelus-ngelus lembut punggung istri (Wuah, langsung rileks coy!), atau mijitin istri biar rileks. Karena kalo rileks, nanganin bayinya juga jadi enak, enteng rasanya, ngga stress.

Intinya sih, istri tetep perlu diperhatiin coy! Well, buat para suami di luar sana, supportlah istri anda! :D

Tuesday, March 31, 2009

My Little Princess


Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Tanggal 18 kemarin, keluarga kecilku telah dilengkapi sang buah hati, yang kami namai Almira Anindyarafa.

Masih ngga percaya rasanya mahluk semungil itu keluar dari badanku. Amazing! Subhanallah. Inilah kuasa Allah. Betul-betul sesuatu yang tak terkatakan.

Jadi ibu, adalah pengalaman pertama bagiku. Masa adaptasi, kalau boleh dibilang begitu, adalah masa-masa yang juga tak terkatakan. Semua perasaan bercampur aduk. Ada kalanya senang, hmm.. mungkin lebih tepat bahagia, kalo ngeliat dia tidur pulas, senyum, ngulet, atau bertingkah lucu lainnya, sampe handphone selalu standby sebagai kamera, supaya begitu dia bertingkah lucu langsung di foto ^__^. Ada kalanya ngerasa repot, kalo lagi nyuci bekas (maaf) ee-nya. Ada kalanya ngerasa sebel kalo dia pipis/ee terlalu sering sampe celana popoknya abis, atau ee padahal baru aja mandi. Arrgghh! (Tapi klo diinget-inget kok jadi lucu ya? Hahaha!) Paling cape kalo tengah malem dia rewel, padahal kita nguantuuukk… Nenen ngga mau, pipis/ee ngga juga, ya udah deh, maen tebak-tebakan, analisa-analisaan, apakah dia kepanasan/kedinginan/perutnya ngga enak? Hehehe.. Biasanya sih antara itu, paling ampuh dibawa ngadem keluar kamar sambil digendong, trus tidur deh. Akibatnya? Huhuhu.. anakku bau tangan.. Maunya digendong aja.. Tapi kalo pagi sampe sore ngga bau tangan sih, Alhamdulillah :)

Paling seneng kalo ngeliat dia nenen dengan semangat, nyot nyot nyot.. lucu pipinya dari tampak atas ^__^. Paling ngakak kalo dia nyari nenennya nyasar-nyasar, saking hausnya. (Ck, ibu macam apa? Anaknya kehausan malah diketawain)

Punya bayi ternyata harus teliti, mulai dari ujung rambut sampe ujung kaki. Mesti bersih. Mulai dari lemak di kepala, bersihin kuping yang baru ditindik, daki di leher, kulit di sela-sela jari tangan dan kaki, apalagi kelaminnya, harus bersih. Terutama perempuan, karena dari struktur fisiologisnya kelaminnya di dalam, bersihinnya mesti extra hati-hati dan bersih.

Kapan bersihinnya? Kata mama, pas dia tenang. Nah lho, tenangnya pas dia tidur, kalo kita “otak-atik” nanti dia bangun (Yaah, hilang deh masa istirahat kalo dia bangun… Hahaha…). Ini agak membingungkan, ada yang bilang, waktu dia tidur, sebaiknya kita juga tidur, supaya istirahat. Tapi kan pas dia tidur waktunya kita bersihin yang baru aja disebutin di atas, waktunya cuci-cuci bekas ee, waktunya makan, waktunya mandi. Oh iya, semenjak jadi ibu, kecepatan makanku jadi maksimal, hahaha! Dan mandi, ohhh mandi dengan santai saat bayi tidur adalah hal termewah buat seorang ibu, hahaha.. (Betulkah? Well, at least buatku ^__^)

Jadi engineer ternyata ada untungnya juga. Biasa bergadang kerja malem bikin aku ngga begitu kaget karena harus bangun tengah malem untuk ngurusin si cantik. Tapi kaget tetep ada, karena yang kita urus kali ini adalah manusia, sedangkan laptop ngga pernah nangis, pipis, ee. Kalo laptop lagi rewel ya tinggal tekan tombol ajaib. Push! Langsung deh diem. Nah kalo baby, ngga bisa digituin :D (Ngga boleh deng, bukan ngga bisa)

Baby blues mungkin akan dirasakan oleh para wanita yang biasa bekerja. Menurutku sih…. Soalnya mereka yang bekerja biasa punya kegiatan, sibuk dengan urusan sendiri, sibuk mengurus diri sendiri juga. Sementara, setelah punya anak, otomatis waktu itu hilang. Boro-boro keluar rumah buat jalan-jalan, keluar kamar aja mikir-mikir. Kalo dari lagunya westlife yang flying without wings sih “…and you’re the place my life begins.. and you’ll be where it ends..” itu cocok banget! Soalnya dari bangun sampe tidur yang diurus adalah anak, hahaha! Tapi bagian lainnya juga cocok kok, apalagi yang “To watch the sunrise on your face.. To know that I can say I love you.. In any given time or place…” ^__^

Tapi, siapa sih yang tega jadi ibu baby blues kalo ngeliat senyum semanis ini? :)



Mira, I love you! Mmmuuuuaaaahhh…..

Tuesday, February 10, 2009

Bebek Yogi

Hehehe, sabtu kemaren baru abis nyobain bebek yogi yang ada di jalan panjang nih. Padahal tiap ke RS ngelewatin bebek yogi, tiap kali pula mikir, “Enak ga ya?” Padahal sebenernya tiap lewat lumayan banyak yang parkir, mestinya jadi salah satu ukuran kalo bebek di situ banyak yang suka. Soalnya di sebelahnya ada bengkel yang lumayan rame juga sih, jadi rancu itu mobil-mobil pada mau ke bengkel atau mau ke bebek yogi. Sampe akhirnya di plurk onyay ngebahas tentang bebek, di situ destry nyebut-nyebut bebek yogi di jalan panjang. Berhubung ada yg ngasih rekomendasi, baru deh akhirnya aku berani nyoba.


Jadi deh sabtu kemaren ke sana, cuma gara-gara aku lupa-lupa inget sama tempatnya, jadi sempet kelewatan sekali deh, hehe.. Jadi puter balik dulu sekali baru akhirnya sampe tempat tujuan. Ternyata cara pesennya bukan duduk di meja, liat menu, terus pesen, tapi lebih kayak di warteg, nasi diambilin mbak-mbaknya (pilih nasi biasa atau uduk), pilih lauknya, ada bebek goreng, bebek bakar, bebek bumbu rica-rica, dan lain-lain (ngga hapal semuanya), trus ada tahu, tempe, telor, dan lain-lain (sekali lagi, ngga hapal :p), trus dikasih lalapan dan pilih minuman. Terakhir, bayar di kasir. Baru deh duduk dan menyantap makanan. Nyam nyam….


Rasanya? Lumayan.. Enakan mana ya sama bebek kayu tangan yang ada di Surabaya? Hmm, ngga tau juga deh. Soalnya udah lama banget ngga ke sana, terakhir mungkin lebih dari setahun yang lalu. Di situ juga lumayan. Kok lumayan? Ngga tau nih, kayaknya semenjak jaman kerja, ngga pernah lagi ada makanan yang aku bilang enak banget. Paling kubilang, “lumayan enak”, ga pernah lagi bilang “enak banget.” Kenapa ya? Apa saking makan itu udah menjadi rutinitas, kewajiban, jadi lidah ini udah ngerasa semua sama aja? Kalo aku baying-bayangin, apa ya kira-kira yang masih bisa kubilang enak banget? Mungkin sesuatu yang baru? Atau justru yang udah lama banget ngga kumakan? Kayak nasi pake duren+sambel terasi, lauknya bisa apa aja (yang bukan orang Palembang pasti ngerasa aneh dengan makanan yang baru aja kutulis ini :D), atau poffertjes, itu juga udah lama banget ngga kumakan. Hmm.. Nyam nyam…

Thursday, January 29, 2009

Ada yang lebih parah?

Masih tentang keluarga baru, alias pasangan-pasangan yang baru menempuh hidup baru alias nikah. Kalo aku bandingin antara aku dengan temen-temen deketku yang udah nikah, sebut aja si C, si W, dan si B, menurutku yang paling mandiri adalah si C. Karena setelah menikah di bulan Juli 2008, dia tinggal di rumah mertua sampai Januari 2009 (kurang lebih enam bulan), setelah itu pindahan ke rumah sendiri baru-baru ini. Kenapa bisa cepet? Karena mereka udah nyari rumah jauh sebelum nikah, tapi berhubung banyak pasangan yang udah keburu patungan pas beli rumah, ga taunya ga jadi nikah, dan rumahnya jadi ngga jelas pemiliknya, akhirnya salah satu dari mereka aja yang beli, setelah resmi nikah baru patungan (kalo ngga salah sih gitu :P). Si W, nikah bulan Mei 2008. Si B, Nikah Juli 2008. Keduanya masih tinggal di rumah orangtua. Sama sebenernya dengan aku, cuma karena aku nikah lebih dulu, November 2007, jadi rekor terparah dipegang aku, masih tinggal sama orang tua selama satu tahun dua bulan. Hopefully, sebentar lagi aku mau memulai hidup mandiri. Kita lihat nanti, di antara satu geng ini, adakah yang akan memecahkan rekorku ini? :P

Tuesday, January 20, 2009

Menikah = Hidup mandiri?

Hari minggu kemarin, sepupuku yang baru nikah main ke rumah. Setelah ngobrol-ngobrol sebentar, aku jadi tau kalo hari sabtunya mereka baru aja pindahan ke rumah kontrakan. Waw, hebat! Pikirku. Mereka baru 11 hari yang lalu menikah, dan sekarang udah langsung ngontrak rumah. Hidup mandiri. Aku jadi malu. Aku udah satu tahun lebih menikah, tapi masih tinggal sama orangtua.

Dulu mungkin aku terlalu meremehkan hal yang namanya nyari rumah/kontrakan. Niat awal memang setelah nikah langsung hidup mandiri, entah nyari kontrakan ataupun beli rumah. Kedua hal itu udah kulakukan bersama suami. Kami rajin baca koran buat liat iklan kontrakan ataupun rumah dijual. Datengin pameran perumahan. Hampir setiap wiken ngunjungin alamat-alamat rumah, townhouse, ataupun cluster-cluster yang available.

Hasilnya, setelah pencarian kira-kira 3 bulan, akhirnya kami memutuskan untuk membeli rumah di satu cluster baru di suatu perumahan. Memang sesuai jadwal, rumah itu selesai kurang lebih sembilan bulan setelah kami bayar DP, tapi kami (atau mungkin cuma aku) ngga memperhitungkan bahwa akan ada waktu tambahan lagi buat nunggu air dan listrik terpasang. Belum lagi kalo mau ganti kunci jadi yang baru, karena kuncinya dari developer. Terus belum lagi pasang teralis. Atau mau renovasi dikit-dikit. Intinya, kurang lebih setahun lah dari mulai DP.

Herannya, kenapa juga selama nunggu rumahnya selesai, ngga kepikiran buat ngontrak rumah? Eh, sebenernya bukannya ngga kepikiran sih, tapi orangtua bilang ngapain ngontrak, mending tinggal di rumah mama-papa aja, sayang kan tuh kamarnya kosong. Emang kalo ortu point of view gitu kali ya? Mana mau liat anak hidup susah, repot karena segala sesuatunya kini mesti ngurus sendiri. Padahal mereka dulu juga abis nikah langsung ngontrak tuh, rumah kecil lagi. Namanya juga perantau, mau nginep di mana coba kalo ngga modal sendiri? Tapi sebagai anak yang udah berkeluarga kan juga pasti ada keinginan untuk mandiri. Hmm, mungkin salahku juga kali ya waktu itu kurang kekeuh untuk ngontrak. Jadinya, yah liatlah sekarang, masih tinggal di rumah orangtua dan belum mandiri juga.

Yah, semoga curhatan ini bisa berguna buat orang-orang yang belum nikah ataupun udah nikah. Saranku, cepet-cepet cari rumah atau kontrakan deh. Kalo bisa sebelum nikah udah nyari kontrakan ataupun rumah, biar langsung bisa ditinggali abis nikah. Karena, kalo udah nikah baru nyari, takutnya makan waktu lama. Apalagi kalo dua-duanya kerja, paling waktu luang cuma wiken. Belom lagi kalo pasangan punya acara rutin tiap wiken. Terus biasanya pas wiken itu kan jadwalnya kondangan, makin sempit aja deh waktu buat nyarinya. Nah, kalo udah gitu mo kapan lagi nyarinya? Padahal ketika memutuskan untuk nikah, seharusnya kita udah siap untuk hidup terpisah dari orangtua, hidup mandiri.

Sekarang, aku ngga mo nunda lagi. Rumah udah jadi. Ada rencana renovasi dikit-dikit, plus pasang teralis dkk. Beberapa bulan lagi, Insyaallah si baby lahir. Pasca melahirkan, mungkin beberapa saat masih di rumah orangtua. Setelah itu, Insyaallah bisa pindah rumah as soon as possible. Loh, masih lama juga ya? Hehehe, yah gitu deh. Semoga siap hidup mandiri. Doain ya!

Monday, January 19, 2009

Update blog list

Yup! Baru aja aku meng-update blog list yang ada di sini. Berhubung udah banyak yang blognya ngga aktif, dengan sangat menyesal mesti kuhapus dari list. Ok deh gitu aja :)